-->

Rabu, 10 Desember 2025

Bukan Sekadar "Konten, Proses, Produk": Guru PALI Sulap Barang Bekas Jadi Media Pembelajaran Berdiferensiasi yang Berpihak pada Murid

Bukan Sekadar "Konten, Proses, Produk": Guru PALI Sulap Barang Bekas Jadi Media Pembelajaran Berdiferensiasi yang Berpihak pada Murid


GKK Sumatera Selatan – Gelaran hari kedua "Kelas Pemantik: Pembelajaran Berbasis Asesmen" hasil kolaborasi Dinas Pendidikan PALI dan Lingkar Daerah Belajar (LDB) berlangsung penuh warna dan kreativitas. Jika hari sebelumnya peserta diajak menyelami data asesmen, hari ini (10/12), para guru diajak terjun langsung ke jantung praktik pembelajaran: Diferensiasi.

Tim Guru Kreator Konten (GKK) Sumsel yang hadir di lokasi mencatat adanya pergeseran pemahaman yang fundamental di kalangan peserta. Materi tidak lagi sekadar teoritis, melainkan menukik pada esensi bagaimana melayani kebutuhan murid yang beragam.

Sesi pagi dibuka dengan pembedahan materi yang "menampar" pemahaman lama. Selama ini, pembelajaran berdiferensiasi seringkali terjebak pada hafalan tiga strategi teknis: diferensiasi konten, proses, dan produk.

Namun, dalam sesi ini, fasilitator dari Yayasan Guru Belajar (mitra pelaksana LDB) menegaskan kembali filosofi utamanya. "Pembelajaran berdiferensiasi itu tidak boleh hanya fokus pada 3 strategi tadi. Fokus utamanya adalah satu: tujuan untuk memfasilitasi murid dengan kendala apapun agar tetap bisa belajar dan berkembang," ujar salah satu fasilitator yang diamini oleh para peserta.

Pemahaman ini menjadi kunci saat para guru mulai merancang Rencana Pembelajaran (RPP/Modul Ajar). Fokus utamanya adalah anak-anak di Fase Fondasi (Level 0) dan Fase A. Guru ditantang merancang pembelajaran Literasi dan Numerasi yang berbasis kontekstual sebagai identitas diri—membuat materi pelajaran "nyambung" dengan kehidupan sehari-hari anak PALI.

Keseruan memuncak pasca jeda makan siang. Tidak ada laptop canggih atau alat peraga mahal yang mendominasi meja kelompok. Para guru ditantang untuk merancang media pembelajaran pendukung RPP mereka dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar.

GKK Sumsel menyaksikan bagaimana kardus bekas, botol, hingga dedaunan disulap menjadi alat bantu hitung dan media literasi yang interaktif. Ini membuktikan bahwa keterbatasan sarana bukan penghalang untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna (meaningful).

Puncak kegiatan hari ini ditutup dengan metode Gallery Walk. Ruang pelatihan berubah layaknya pameran karya seni. Setiap kelompok memajang rancangan pembelajaran dan mendemonstrasikan cara kerja media buatan mereka.

Suasana hidup terlihat ketika anggota kelompok saling berkunjung ke "lapak" kelompok lain. Tidak hanya sekadar melihat, mereka aktif memberikan umpan balik (feedback) yang konstruktif. Diskusi terjadi secara alami tentang bagaimana media tersebut bisa lebih efektif membantu siswa yang kesulitan membaca atau berhitung.

"Ini baru pelatihan yang sesungguhnya. Kami tidak hanya duduk mendengarkan, tapi kami merancang, membuat, dan saling mengoreksi. Pulang dari sini, kami punya 'senjata' baru untuk anak-anak didik kami," ungkap salah satu peserta guru dengan antusias.

Rangkaian kegiatan tanggal 9-10 Desember ini membuktikan bahwa guru-guru di Kabupaten PALI memiliki potensi kreativitas yang luar biasa. Dengan pendampingan tepat dari LDB dan dukungan komunitas GKK/IGI, transformasi pendidikan di Bumi Serepat Serasan bukan lagi sekadar wacana. (da/a.m)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2024-2025 Guru Kreator Konten | All Right Reserved