GKK Sumatera Selatan – Semangat kepemimpinan pendidikan berbasis kolaborasi lintas negara terasa kuat dalam pelaksanaan Global Harmony Dialogue Round 1 yang menjadi bagian dari Global Harmony Project, rangkaian APEC School Leadership Program (ASLP) 2025. Mengangkat tema STEM Leadership, kegiatan ini mempertemukan para pemimpin sekolah dari Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura dalam satu forum dialog internasional yang inspiratif.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh tim dari National Education Training Institute (NETI) dan Institute of APEC Collaborative Education (IACE) Korea, memperkuat sinergi antarnegara dalam membangun kapasitas kepemimpinan sekolah di kawasan Asia Pasifik.
Acara dibuka dengan sambutan dari Director of NETI Korea Selatan, Nan-Young Lee, yang menekankan pentingnya kepemimpinan sekolah dalam membangun ekosistem pembelajaran abad ke-21 yang adaptif dan kolaboratif. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dr. Muhammad Yusro, S.Pd., M.T., M.Pd., Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Indonesia, yang mengapresiasi inisiatif kolaborasi internasional ini sebagai bagian dari penguatan kapasitas kepemimpinan pendidikan Indonesia di tingkat global.
Dialog yang dimoderatori oleh Dr. Dian Ekawati, M.Pd. dari BPMP Provinsi Sumatera Selatan ini menghadirkan sejumlah pemimpin pendidikan dari berbagai jenjang. Salah satu pembicara utama adalah M. Akbar Rafsanzani, Kepala SD Negeri 17 Talang Ubi, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan.
Dalam paparannya bertajuk “STEM Leadership - Lessons from a Rural Public School in Indonesia”, Akbar membagikan praktik kepemimpinan STEM yang dikembangkan di sekolahnya, sebuah sekolah dasar negeri di wilayah pedesaan yang dikelilingi hutan karet dan sungai. Ia menegaskan bahwa keterbatasan infrastruktur dan latar belakang sosial ekonomi masyarakat bukanlah penghalang untuk menghadirkan pendidikan STEM yang berkualitas.
“Kami memulai dari konteks kami sendiri. Tantangan kami nyata: akses terbatas pada program pengayaan dan rendahnya literasi di masyarakat. Namun, kami memilih untuk membangun keterampilan berpikir mendalam sebagai fondasi,” ungkapnya.
Pendekatan STEM di sekolah tersebut tidak diposisikan sebagai mata pelajaran tambahan, melainkan sebagai pendekatan pembelajaran berbasis tantangan (challenge-based learning). Siswa diajak bereksperimen, menguji, merevisi, dan merefleksikan desain mereka. Kegagalan dinormalisasi sebagai bagian dari proses belajar.
Salah satu contoh praktik yang dibagikan adalah Paper Tower STEM Challenge, di mana siswa diminta merancang menara tertinggi dan paling stabil hanya dari kertas. Melalui pendekatan CER (Claim, Evidence, Reasoning), siswa belajar berpikir dan berbicara layaknya ilmuwan muda. Hasilnya menunjukkan bahwa desain dengan kolom silinder dan alas segitiga lebar menghasilkan struktur paling stabil, sekaligus menghubungkan konsep tersebut dengan prinsip arsitektur di dunia nyata.
Selain aspek pedagogi, Akbar juga menekankan pentingnya keterlibatan komunitas melalui program seperti Sahabat STEM, yang melibatkan orang tua, alumni, dan guru tamu. Inovasi yang dikembangkan berbasis kebutuhan lokal dengan solusi berbiaya rendah namun berdampak luas. Dampaknya, sekolah berhasil meraih prestasi di kompetisi STEM nasional dan internasional, termasuk SEAMEO RECSAM Malaysia 2025, serta menjangkau lebih dari 1.000 sekolah di Sumatera Selatan melalui diseminasi praktik baik.
Sesi tanya jawab (QnA) menjadi salah satu bagian yang paling interaktif. Ibu Heni dan Ibu Neni turut mengajukan pertanyaan yang menggali lebih dalam tentang strategi perubahan mindset guru serta cara membangun budaya refleksi dalam pembelajaran STEM. Diskusi berlangsung hangat dan menunjukkan antusiasme peserta terhadap pendekatan kepemimpinan berbasis konteks yang dipaparkan.
Pertanyaan langsung juga disampaikan oleh Ms. Wan Sze Lau dari Bukit Timah Primary School, Singapura. Ia menyampaikan apresiasi atas praktik baik yang dinilai sangat detail, inspiratif, dan memukau. Dalam tanggapannya, Ms. Lau menyoroti bahwa keterampilan bertanya guru merupakan fondasi yang sangat fundamental dalam membangun berpikir kritis siswa. Ia menekankan pentingnya pertanyaan yang age-appropriate atau sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Ms. Lau juga mengungkapkan kekagumannya terhadap budaya belajar para guru di Indonesia yang terus berproses dan berinovasi meskipun dalam keterbatasan. Menurutnya, kekuatan tersebut menjadi modal penting dalam membangun kepemimpinan STEM yang berkelanjutan.
Forum ini sekaligus menegaskan bahwa indikator keberhasilan STEM tidak hanya diukur dari produk akhir, tetapi dari kompetensi yang berkembang seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, kolaborasi, dan penerapan konsep ilmiah.
Kegiatan ditutup dengan pesan reflektif yang menggugah: “Mulailah dari konteks Anda. Bangun pengajaran yang kuat, percayai komunitas Anda, dan biarkan inovasi tumbuh dari kebutuhan nyata. Bahkan sekolah kecil pun dapat memimpin perubahan yang bermakna.”
Melalui Global Harmony Dialogue ini, semangat kolaborasi dan kepemimpinan berbasis konteks kembali ditegaskan bahwa transformasi pendidikan dapat tumbuh dari desa, dan berdampak hingga tingkat global. (a.m/da)


Follow Guru Kreator Konten on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram